Jumat, 06 Maret 2015

Lisan Orang Berakal di Belakang Hatinya

       
     
         Manusia mungkin cenderung lupa dan kerap mengabaikan apa yang sebenarnya penting. Masalah lisan (lidah), misalnya, tidak jarang di antara kaum Muslim yang menganggapnya sebagai perkara biasa sehingga tidak heran jika banyak yang menggunakan lisannya secara tidak hati-hati.

Padahal, lisan ini karunia Allah yang sudah semestinya digunakan dengan sebaik-baiknya. Sebab, lisan juga bisa menjadi indikator sempurna tidaknya keimanan seorang Muslim. Rasulullah bersabda,

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Bukhari). 

Demikian pentingnya lisan ini, sampai urusan super penting pun, yakni urusan masuk surga atau neraka, juga ditentukan oleh bagaimana seorang Muslim menggunakan lisannya. Rosul SAW bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (HR Bukhari-Muslim)
 
Penjelasan lebih lanjut makna hadis ini, Imam Nawawi menuliskan pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Al-Adzkar,
“Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya, maka berbicaralah, dan jika dia ragu, maka janganlah berbicara.” 

Sungguh menarik apa yang disampaikan Abu Hatim mengenai ini, “Lisan orang yang berakal di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya, maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat), dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya, dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

Sudah semestinya kita benar-benar waspada terhadap penggunaan lisan kita. Kurangi berbicara yang tidak jelas maslahatnya. Hindari berbicara tentang keburukan orang lain, apalagi mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, itu semua tidak akan mendatangkan kecuali kerugian bagi diri sendiri.

Terkait ini Rosulullah mengingatkan,
“Wahai orang yang menyatakan beriman melalui lidahnya, tetapi keimanannya belum masuk ke dalam relung hatinya, janganlah kalian melakukan ghibah (menggunjing) terhadap kaum Muslimin dan jangan kalian mencari-cari kesalahan mereka. Sebab, barang siapa yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan menyingkap keburukannya dan barang siapa yang disingkapkan Allah keburukannya, maka Allah akan mempermalukannya walaupun dia bersembunyi di dalam rumahnya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dengan demikian, mari sayangi diri kita, iman kita, ibadah kita, dan segala kebaikan yang telah kita upayakan sepanjang hidup ini dengan senantiasa waspada dalam berbicara. Sekiranya pun kita mengetahui keburukan orang lain, maka menutupinya jauh menyelamatkan daripada menyebarluaskannya.

“Barang siapa menutupi kekurangan seorang Muslim, maka Allah akan menutupi kekurangannya di Hari Kiamat.” (HR Muslim).



         Semoga Artiikel tentang Lisan Orang Berakal di Belakang Hatinya ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid
 

Rabu, 04 Maret 2015

Takdir Jodoh



Apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama ...

Maka ...
Sejauh apapun mereka ...
Sebanyak apapun rintangan yang menghalangi ...
Sebesar apapun beda diantara mereka ...
Sekuat apapun usaha mereka untuk menghindarkannya ...
Meski mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya ...
Meski mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya ...


PASTI tetap saja mereka akan bersatu. ..
Seakan ada magnet yang menarik mereka ...
Akan ada hal yang datang untuk menyatukan mereka berdua akan ada suatu kejadian yang membuat mereka saling mendekat dan akhirnya bersatu ...

Namun ...
Apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak berjodoh ...

Maka ...

Sebesar apapun usaha mereka untuk saling mendekat ...
Sekeras apapun upaya orang disekitar mereka untuk menyatukannya ...
Sekuat apapun perasaan yang ada diantara mereka berdua ...
Sebanyak apapun komunikasi diantara mereka sebelumnya ...


PASTI akan ada hal yang membuat mereka akhirnya saling menjauh, ada hal yang membuat mereka saling merasa tidak cocok, ada hal yang membuat mereka saling menyadari bahwa memang bukan dia yang terbaik, ada kejadian yang menghalangi mereka untuk bersatu, bahkan kalau mereka diikat sekalipun pasti akan terlerai ikatan itu ...


Namun ...

Yakinlah dengan segala Ketentuan yang diberikan oleh Allah, apa yang telah digariskan, yang telah ditulis oleh Allah dalam Kitab-Nya ...
Adalah yang TERBAIK untuk kita karena Dia lah yang Maha Tahu apa yang TERBAIK buat kita ...


Maka dari itu ...
Jika kita tidak mendapatkan suatu hal yang kita inginkan itu bukan berarti bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkannya..namun justru berarti kita pantas mendapatkan yang lebih baik lagi ...

Yakinlah ...
Allah akan memilihkan yang Terbaik buat kita dan menggantikan kehilangan itu dengan yang lebih baik lagi banding yang hilang menurut pilihan-Nya ...

Aamiin ...




      Semoga Artikel Tentang Takdir Jodoh ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Selasa, 03 Maret 2015

Sosok Wanita Muslimah



Wanita muslimah adalah wanita yang mulia
Wanita yang memiliki akidah yang baik
Wanita yang ibadahnya baik
Wanita yang bisa mengislamkan akhlaknya
Wanita yang menjaga auratnya
Wanita yang berbusana syar’i ...


Wanita muslimah adalah seorang ibu yang baik
Merasa cukup dengan keadaan suaminya
Menjaga harta suami
Menyimpan rahasia suami
Menutupi kekurangan suami
Mendukung dakwah suami
Mempersiapkan generasi yang mulia
Mendidik anak dengan benar
Membangun keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah ...


Wanita muslimah adalah senjata yang tajam
Jika diasah dan disiapkan dengan baik
Maka ia akan siap mencapai tujuannya
Menjadi fondasi yang baik
Membangun masyarakat islami yang kokoh
Memiliki pilar yang kuat ...


Wanita muslimah adalah guru yang baik
Memberikan teladan yang sejati pada umat
Menjadikan para shahabiyah sebagai lentera petunjuk
Menunjukkan kegigihannya dalam membela akidah
Mau mengorbankan segala yang dimiliki untuk kepentingan Islam ...


Wanita muslimah ibarat taman yang indah
Selalu rajin menyiraminya
Memberinya pupuk yang berkualitas
Sehingga tumbuh dengan subur
Lebat daunnya dan harum bunganya ...


Wanita muslimah adalah wanita yang cerdas
Selalu haus akan ilmu
Tidak pernah puas dengan ibadahnya
Melakukan hal yang bermanfaat
Berlomba-lomba dalam kebaikan
Sehingga ia tidak menyia-nyiakan waktu ...

Wanita muslimah selalu mengutamakan kesederhanaan
Walaupun hidup berkecukupan, tapi ia dermawan
Sering memberikan sedekah
Senang menyantuni anak yatim
Membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya ...


Wanita muslimah seperti bidadari surga
Wanita yang terindah di duniaIa akan menyenangi hati setiap orang
Wajahnya penuh dengan cahaya
Sinarnya memancar dan menerangi segala sesuatu disekitarnya ...


Wanita muslimah bersunguh-sungguh menjadi wanita sholehah
Karena ia mendamba sebagai wanita penghuni surga
Berusaha menjadi sebaik-baiknya perhiasan
Menjadikan hidup lebih bersemangat dan optimis
Ikhlas dan ridho dengan ketetapan-Nya
Sabar bila terjadi musibah
Syukur bila menerima kebahagiaan ...


Wanita muslimah senantiasa bermuhasabah
Wanita muslimah sering muraqabatullah
Wanita muslimah selalu istiqomah
Wanita muslimah memiliki iman yang kuat
Wanita muslimah memiliki tekad yang kuat
Wanita muslimah tidak takut apapun kecuali Allah
Karena Allah sebagai Pelindung dan Pembuat perhitungan ...


❤  Dibalik laki-laki yang agung, terdapat sosok wanita yang agung
❤  Dibalik laki-laki yang hebat, terdapat sosok wanita yang hebat
❤  Dibalik laki-laki sholeh, terdapat wanita yang sholehah
❤  Dibalik lahirnya tokoh muslim besar, terdapat wanita muslimah yang bijaksana ...



        Semoga Artikel Tentang Sosok Wanita Muslimah ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Bercermin Pada Hati

 
        
         Hati merupakan salah satu tempat di mana naluri atau perasaan kita berasal. Hati tidak akan membohongi diri kita. Hati akan memperlihatkan kebaikan dan kejelekan diri kita. Maka, cobalah untuk kita bercermin pada hati. Lha, gimana caranya?

Rosulullah SAW pernah bersabda bahwa, “Di dalam tubuh cucu Nabi Adam ada segumpal daging yang apabila daging itu sehat maka sehat pula lah seluruh badannya, tapi jika daging itu sakit maka sakit pulalah seluruh badannya.” Nah, yang dimaksud dengan segumpal daging itu, para ulama sepakat bahwa itu adalah hati.

Hati dapat diubah menjadi sebuah singkatan yang berarti Hanya Aku Tempat Ibadah. Jadi, hati dapat dijadikan cermianan diri kita. Untuk mengetahui seperti apa diri kita, maka tanyakanlah kepada hati. Hati tahu mana yang baik dan buruk pada diri kita.

Bercermin di dalam hati berarti kita menginteropeksi diri dengan merenungkan perbuatan apa saja yang telah kita perbuat. Dengan sendirinya di dalam hati akan berkata, bahwa yang dilakukan itu ada yang baik dan buruk. Dari sana kita dapat mengukur, seperti apa diri kita selama ini.

Dengan menginteropeksi diri, maka dapat menjadi gambaran bagi kita dalam melangkah ke depannya. Kita dapat mengetahui harus seperti apa untuk bertindak nantinya. Setelah kita tahu apa yang dilakukan itu baik dan buruknya, maka kita dapat memilah dan memilih perilaku apa yang harus kita ambil.
Namun, ada satu hal yang jadi penghambat bagi kita. Dialah nafsu sebagai perayu handal. Nafsu lebih suka menjerumuskan kita pada hal-hal yang menentang dari ajarannya. Maka, kita harus berhati-hati dengan yang satu ini. Bentengilah diri kita agar tidak dikuasai oleh nafsu. Taklukan nafsu kita agar mengikuti keinginan hati dan pikiran kita.


Wallahu ‘alam ...


         Semoga Artikel Tentang Bercermin Pada Hati ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Senin, 02 Maret 2015

Menangis Karena Allah



       Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rosulullah telah bersabda :
"Tidak akan masuk ke dalam neraka, seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke putingnya, dan tidak akan dapat bersatu debu saat berjihad fisabillah dengan asap neraka jahannam”. (HR. Tarmidzi)
__________________________________________________________________________________

Allah berfirman :

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
“Dan mereka bersujud atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'." (QS. Al-Israa: 109)
__________________________________________________________________________________

Allah berfirman :

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا
“…apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58)
__________________________________________________________________________________

Allah berfirman :
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
... dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,”(QS. An-Najm : 43)
__________________________________________________________________________________

Allah berfirman :
 فَلْيَضْحَكُوا۟ قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا۟ كَثِيرًا جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
"Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari apa yang mereka telah kerjakan." (QS. At -Taubah : 82)
__________________________________________________________________________________

Allah berfirman :
أَفَمِنْ هَٰذَا ٱلْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? (QS. An-Najm : 59)

وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ
Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? (QS. An-Najm : 60)

__________________________________________________________________________________

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tujuh (orang) yang akan diberi naungan oleh Allâh pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. ...... (di antaranya): Seorang laki-laki yang menyebut Allâh di tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata”. (HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031)
__________________________________________________________________________________

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, pada suatu hari Rosulullah berkhutbah yang mana belum pernah aku mendengar khutbah Beliau yang seperti itu. Maka Beliau bersabda dalam khutbahnya itu:
“Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu semua akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. Anas berkata, “saat itu para Sahabat Nabi semuanya menutup wajah mereka sambil menangis tersedu-sedu." (HR. Bukhari Muslim)
__________________________________________________________________________________

Dari Abdullah bin As Syikhkhir dia berkata, aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat itu Beliau sedang melaksanakan sholat, maka terdengarlah rintihan Nabi karena menangis seumpama air yang sedang direbus dalam periuk. (HR. Abu Dawwud, Turmidzi)

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah telah bersabda :
“Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah melainkan dua tetes dan dua bekas; Tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas adalah bekas perjuangan fi sabilillah dan bekas yang timbul karena memperjuangkan hal-hal yang diwajibkan Allah." (HR. Turmidzi)
__________________________________________________________________________________

Rosulullah bersabda :
“Menangislah kamu semua. Dan apabila kamu tidak dapat menangis maka pura-pura menangislah kamu!” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Dishohihkan oleh Hakim dan Dzahabi)
__________________________________________________________________________________

Dari Al Irbad bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

“Rasulullah telah menasehati kami dengan nasehat yang menyebabkan hati kami bergetar dan airmata kami bercucuran.” ( HR. Abu Daud)


Menangislah Karena Allah Sahabatku, Renungilah Dosa-dosa kita yang telah berlalu dan Mari kita cari jalan menuju Taubatan Nasuha.




        Semoga Artikel Tentang Menangis Karena Allah ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Minggu, 01 Maret 2015

Menjadi Padi yang Semakin Merunduk


"Ya  ayyuhas sadirul  muzawwiru  min  sholafin,  mahlan fainnaka  bil ayyami munkhodi"
Wahai orang-orang yang egois sombong lagi berpaling,  hati-hatilah karena hari-harimu yang menipu.

Sumber kehancuran seseorang lebih banyak berasal dari dirinya sendiri, dibandingkan faktor-faktor yang berasal dari luar.

Diri sendiri adalah kekuatan utama yang menopang kehidupan, jika kekuatan itu cukup mempunyai landasan yang kuat, faktor-faktor yang berasal dari luar diri akan mampu dikelola dengan baik betapapun keras dan sulitnya tantangan yang dihadapi.

Salah satu sifat dalam diri manusia yang menjadi sumber kehancurannya adalah apa yang disebut sebagai kesombongan.

Sombong adalah perasaan dalam diri manusia bahwa ia mempunyai berbagai kelebihan tertentu dibandingkan orang lain, dimana kelebihan tersebut membuatya merasa menjadi lebih mulia sehingga harus didahulukan pendapatnya, dihormati, dsb.

Sikap dan sifat semacam ini menjadikan manusia cenderung memikirkan bagaimana dirinya dihargai dan dihormati orang lain, karena merasa dirinyalah yang ‘serba’ dan ‘paling’ pintar, paling keren, paling kaya dan berbagai ‘paling’ lainnya.

Kesombongan itu menimbulkan sikap angkuh dan congkak yang bisa menjadi awal dari sebuah permusuhan dengan orang-orang disekitarnya, permusuhan dengan orang-orang sekitar kita adalah cara paling baik untuk menghancurkan diri sendiri permusuhan tersebut menjadikan kita lehilangan berbagai kesempatan untuk saling tolong menolong dan bekerjasama dalam berbagai hal.

Akibatnya akan banyak potensi dan kemungkinan pengembangan diri yang terabaikan karena proses permusuhan ini.

Walau tidak bermusuhan sekalipun, kesombongan dan keangkuhan akan membawa keengganan pada seseorang untuk menjalin hubungan baik dengan kita.

Akibatnya kehidupan kita akan lebih banyak dikucilkan, sehingga mengurangi proses kebahagiaan dalam hidup secara keseluruhan.

Disatu sisi mungkin kita tidak secara langsung mebutuhkan orang-orang disekitar kita, tetapi alangkah lebih indahnya jika kehidupan bertetangga kita juga baik dan saling mengenal serta menghargai satu dengan yang lain.

Kesombongan juga membawa kita kepada kehancuran, karena kesombongan merupakan awal dari diri kita untuk menutupi kesadaran dan kebenaran yang timbul kesombongan karena kita merasa lebih pintar dari orang lain akan membawa pada sikap mempertahankan diri yang membabi buta, karena yang kita pentingkan adalah bahwa orang lain mengikuti ide dan pandangan kita.

Tolok ukurnya bukan lagi kebenaran, keadilan atau kebaikan, tetapi kemenangan kita Akibatnya kesombongan menutupi kebenaran yang datang kepada kita, kesombongan pada akhirnya adalah cara kita untuk menutupi segala kekurangan yang kita miliki.

Dengan kesombongan kita berharap bahwa apa yang menjadi kesalahan kita bisa tertutupi oleh kesombongan yang kita tampilkan Kita berpura-pura terhadap suatu hal untuk menutupi hal lain.

Karena itulah mahfudzot diawal kalimat membuka kesadaran kita untuk sedapat mungkin menjauhi sikap dan sifat sombong dalam diri kita, karena sebenarnya sikap tersebut menipu kita dengan atau tanpa kita sadari.

Kita menipu diri sendiri bahwa kita tahu padahal kita tidak tahu, atau kta menipu diri sendiri seakan akan kita bisa, padahal kta tidak bisa.

Seperti sebuah gelas yang sudah terisi air, orang-orang sombong tidak akan pernah mau menerima pengetahuan dari orang lain, karena merasa dirinya sudah penuh dan tidak ada lagi yang perlu dipelajari.

Padahal dengan kemajuan dan percepatan zaman yang demikian dahsyat, belajar dan menerima pengetahuan terus menerus akan menjadi dasar untuk menjalani kehidupan modern yang semakin dinamis.

Jika kita setiap hari dengan rendah hati mau membuka diri terhadap berbagai pengetahuan yang dimiliki orang lain, kita akan siap menerima segala ilmu dan pengetahuan baru yang datang kepada kita.

Kita akan lebih mudah dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan dimana kita tinggal, karena kita bisa dengan segera mempelajari bagaimana pola kehidupan tersebut.

Kesiapan untuk menerima ilmu dan pengetahuan juga menjadi dasar yang kuat dalam proses seseorang menghadapi perubahan zaman yang semakin dinamis, karena bagaimanapun dunia akan terus berubah.

Tidak ada didunia ini yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri, maka kerendahan hati kita akan membantu kita untuk menyesuaikan diri dengan baik, sehingga kita mampu bertahan hidup.



    Semoga Artikel Tentang Menjadi Padi yang Semakin Merunduk ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid
 

Sungguh Dahsyat Siksa Seorang Pendusta


   
   
    

         Berdusta atau berbohong salah satu sifat yang sangat buruk dan dicela dalam pandangan syariat, akal dan fitrah yang lurus. Allah telah mengharamkannya dalam semua risalah samawiyah. Allah juga mencela perbuatan dusta dan para pelakunya dalam banyak ayat. Mereka diancam dengan siksa yang sangat berat.






Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْىَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَٰنًا وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".” (QS. Al-A’raf : 33)
__________________________________________________________________________________

Ibnul Qayyim menilai bahwa perkata-perkara haram dalam ayat di atas yang paling buruk dan paling besar dosanya adalah berkata yang mengada-ada tentang Allah tanpa ilmu. Sebab, syirik dan kekufuran tidak muncul kecuali dari kedustaan.


وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰٓ إِلَى ٱلْإِسْلَٰمِ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Ash-Shaff : 7)
__________________________________________________________________________________

وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An-Nahl : 116)
__________________________________________________________________________________

Allah telah mengiringkan antara perbuatan dusta dan kesyirikan yang menunjukkan ada hubungan antara keduanya,

فَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَٰنِ وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ
حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِۦ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ
“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj : 30-31)
__________________________________________________________________________________

Sebenarnya, berbohong merupakan identitas orang kafir. Allah telah firmankan tentang kafirin,

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 39)
__________________________________________________________________________________



Dusta juga menjadi tabiat yang melekat pada diri orang-orang munafik dan menjadi salah satu ciri mereka yang paling menonjol. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ
“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafikun : 1)



Dalam hadits yang sangat masyhur, “Ada empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya, bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertikai ia berbuat curang.” (Muttafaqun 'alaih)

      Dusta juga menjadi tabiat yang melekat pada diri orang-orang munafik dan menjadi salah satu ciri mereka yang paling menonjol ...
Rosulullah SAW menjelaskan bahwa berlaku jujur adalah jalan menuju surga, sebaliknya berdusta merupakan  jalan yang menghantarkan kepada neraka. Dari Ibnu Mas’ud RA, Rosulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaq ‘Alaih)

Oleh karenanya, wajar sekali jika perbuatan dusta diancam dengan siksa yang sangat mengerikan. Dalam hadits Samurah bin Jundab yang sangat panjang, dijelaskan akibat yang akan ditanggung oleh pendusta yang kebohongannya sudah sampai ke ufuk. Rosulullah SAW menceritakan apa yang beliau temui dalam mimpinya.

“Kemudian kami berangkat lagi mendatangi orang yang terlentang pada tengkuknya. Ternyata ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa kait (yang terbuat) dari besi. Tiba-tiba ia datangi sebelah wajah orang yang terlentang itu, lalu ia robek (dengan kait besi tersebut) mulai dari sebelah mulutnya hingga tengkuknya, mulai dari lubang hidungnya hingga tengkuknya, dan mulai dari matanya hingga tengkuknya. Rosulullah SAW kemudian bersabda: “Selanjutnya orang itu berpindah ke sebelah wajah lainnya dari orang yang terlentang tersebut dan melakukan seperti yang dilakukannya pada sisi wajah yang satunya. Belum selesai ia berbuat terhadap sisi wajah yang lain itu, sisi wajah pertama sudah sehat kembali seperti sedia kala. Maka ia mengulangi perbuatannya, ia lakukan seperti yang dilakukannya pada kali pertama.”

Di penghujung hadits dijelaskan dosa yang diperbuat oleh laki-laki tadi, “Sesungguhnya laki-laki itu setiap keluar dari rumahnya ia berdusta (berbohong) yang kebohongannya sampai ke kaki-kaki langit (tersebar ke mana-mana,-terj)” (HR. Al-Bukhari) dalam riwayat lain, “Ia disiksa ademikian hingga tiba hari kiamat.”

 
Penutup   

Siksa dahsyat yang ditimpakan kepada pendusta diatas terjadi dialam kuburnya sebagai siksa kubur. Ini terus disiksakan atasnya sampai terjadinya hari kiamat. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya.

Bahaya dusta semakin menjadi-jadi karena dia dilakukan oleh lisan. Di mana seseorang lengah dari mengontrolanya. Maka benar sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bahwa yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka adalah hasil kerja lisannya. (HR. al-Tirmidzi)

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan jaminan surga kepada umatnya yang benar-benar sanggup menjaga lisannya,

“Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka aku akan menjamin surga untuknya.” (Muttafaq 'alaih dari hats Sahal bdiin Sa'ad)

Berdusta semakin asyik dikerjakan karena terkadang berdusta menjadi sebuah hiburan yang membuat orang-orang tertawa dan lupa terhadap masalahnya. Sehingga berdusta yang seperti ini tidak terlihat sebagai sesuatu yang tercela.

Pendorong berbohong lainnya, berbohong terkadang bisa menambah jumlah nominal pernghasilan. Baik dengan mengurangi timbangan dan takaran, bersumpah palsu saat menjual, atau menipu, dan sebagainya. Tapi, satu kepastian bahwa harta yang diperolehnya tidak akan barakah. Sehingga dengan hasil dari berdusta tersebut, ia mengenyangkan perutnya, menghilangkan dahaganya, dan menutupi tubuhnya dengan pakaiannya. Sehingga ibadah yang dikerjakannya tidak bisa mentazkiyah jiwanya. Karenanya, kecenderungan kepada maksiat dan perbuatan dosa lebih kuat dalam dirinya.

Wallahu Ta’ala A’lam



       Semoga Artikel Tentang Sungguh Dahsyat Siksa Seorang Pendusta ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid