Berdusta
atau berbohong salah satu sifat yang sangat buruk dan dicela dalam
pandangan syariat, akal dan fitrah yang lurus. Allah telah
mengharamkannya dalam semua risalah samawiyah. Allah juga mencela
perbuatan dusta dan para pelakunya dalam banyak ayat. Mereka diancam
dengan siksa yang sangat berat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْىَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا۟
بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَٰنًا وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى
ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah:
"Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau
pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa
alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu
yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan)
mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".” (QS.
Al-A’raf : 33)
__________________________________________________________________________________
Ibnul Qayyim menilai bahwa perkata-perkara haram
dalam ayat di atas yang paling buruk dan paling besar dosanya adalah
berkata yang mengada-ada tentang Allah tanpa ilmu. Sebab, syirik dan
kekufuran tidak muncul kecuali dari kedustaan.
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ وَهُوَ
يُدْعَىٰٓ إِلَى ٱلْإِسْلَٰمِ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ
ٱلظَّٰلِمِينَ
“Dan
siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan dusta
terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Ash-Shaff : 7)
__________________________________________________________________________________
وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٌ
وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۚ إِنَّ
ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“Dan
janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu
secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An-Nahl : 116)
__________________________________________________________________________________
Allah
telah mengiringkan antara perbuatan dusta dan kesyirikan yang
menunjukkan ada hubungan antara keduanya,
فَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَٰنِ وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ
حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِۦ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ
فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى
بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ
“Maka jauhilah olehmu
berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta
dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.
Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia
seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau
diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj : 30-31)
__________________________________________________________________________________
Sebenarnya,
berbohong merupakan identitas orang kafir. Allah telah firmankan
tentang kafirin,
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan
ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah : 39)
__________________________________________________________________________________
Dusta juga menjadi tabiat yang melekat pada
diri orang-orang munafik dan menjadi salah satu ciri mereka yang paling
menonjol. Ini sesuai dengan firman Allah,
وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ
“Dan Allah mengetahui bahwa
sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS.
Al-Munafikun : 1)
Dalam hadits yang sangat masyhur,
“Ada empat
hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang
munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu
dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq
sampai ia meninggalkannya, bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara
ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertikai ia berbuat
curang.” (Muttafaqun 'alaih)
Dusta juga menjadi tabiat yang
melekat pada diri orang-orang munafik dan menjadi salah satu ciri mereka
yang paling menonjol ...
Rosulullah SAW
menjelaskan bahwa berlaku jujur adalah jalan menuju surga, sebaliknya
berdusta merupakan jalan yang menghantarkan kepada neraka. Dari Ibnu
Mas’ud RA, Rosulullah SAW
bersabda :
“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan
baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya
seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai
orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan
dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya
seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta.” (Muttafaq ‘Alaih)
Oleh karenanya, wajar sekali jika
perbuatan dusta diancam dengan siksa yang sangat mengerikan. Dalam
hadits Samurah bin Jundab yang sangat panjang, dijelaskan akibat yang
akan ditanggung oleh pendusta yang kebohongannya sudah sampai ke ufuk.
Rosulullah SAW menceritakan apa yang beliau
temui dalam mimpinya.
“Kemudian kami berangkat lagi mendatangi
orang yang terlentang pada tengkuknya. Ternyata ada orang lain yang
berdiri di atasnya sambil membawa kait (yang terbuat) dari besi.
Tiba-tiba ia datangi sebelah wajah orang yang terlentang itu, lalu ia
robek (dengan kait besi tersebut) mulai dari sebelah mulutnya hingga
tengkuknya, mulai dari lubang hidungnya hingga tengkuknya, dan mulai
dari matanya hingga tengkuknya. Rosulullah SAW
kemudian bersabda: “Selanjutnya orang itu berpindah ke sebelah wajah
lainnya dari orang yang terlentang tersebut dan melakukan seperti yang
dilakukannya pada sisi wajah yang satunya. Belum selesai ia berbuat
terhadap sisi wajah yang lain itu, sisi wajah pertama sudah sehat
kembali seperti sedia kala. Maka ia mengulangi perbuatannya, ia lakukan
seperti yang dilakukannya pada kali pertama.”
Di penghujung
hadits dijelaskan dosa yang diperbuat oleh laki-laki tadi, “Sesungguhnya
laki-laki itu setiap keluar dari rumahnya ia berdusta (berbohong) yang
kebohongannya sampai ke kaki-kaki langit (tersebar ke mana-mana,-terj)”
(HR. Al-Bukhari) dalam riwayat lain, “Ia disiksa ademikian hingga tiba
hari kiamat.”
Penutup
Siksa dahsyat yang ditimpakan kepada
pendusta diatas terjadi dialam kuburnya sebagai siksa kubur. Ini
terus disiksakan atasnya sampai terjadinya hari kiamat. Semoga Allah
menyelamatkan kita darinya.
Bahaya dusta semakin menjadi-jadi
karena dia dilakukan oleh lisan. Di mana seseorang lengah dari
mengontrolanya. Maka benar sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
bahwa yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka adalah
hasil kerja lisannya. (HR. al-Tirmidzi)
Dalam hadits lain, Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan jaminan surga kepada umatnya
yang benar-benar sanggup menjaga lisannya,
“Barangsiapa menjamin untukku
apa yang ada di antara kedua dagunya dan apa yang ada di antara kedua
kakinya, maka aku akan menjamin surga untuknya.” (Muttafaq 'alaih dari
hats Sahal bdiin Sa'ad)
Berdusta semakin asyik dikerjakan karena
terkadang berdusta menjadi sebuah hiburan yang membuat orang-orang
tertawa dan lupa terhadap masalahnya. Sehingga berdusta yang seperti ini
tidak terlihat sebagai sesuatu yang tercela.
Pendorong berbohong
lainnya, berbohong terkadang bisa menambah jumlah nominal pernghasilan.
Baik dengan mengurangi timbangan dan takaran, bersumpah palsu saat
menjual, atau menipu, dan sebagainya. Tapi, satu kepastian bahwa harta
yang diperolehnya tidak akan barakah. Sehingga dengan hasil dari
berdusta tersebut, ia mengenyangkan perutnya, menghilangkan dahaganya,
dan menutupi tubuhnya dengan pakaiannya. Sehingga ibadah yang
dikerjakannya tidak bisa mentazkiyah jiwanya. Karenanya, kecenderungan
kepada maksiat dan perbuatan dosa lebih kuat dalam dirinya.
Wallahu
Ta’ala A’lam
Semoga Artikel Tentang
Sungguh Dahsyat Siksa Seorang Pendusta ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin
* Salam Ukhuwah Islamiyah dari
Andi Ibnoe Badawi Mazid