Minggu, 08 Februari 2015

Belajar Arti Kehidupan Dari Pak Tua yang Sederhana


       Ini kisah yang tak mungkin terlupakan. Pertemuan dengan seorang tukang tambal ban yang benar-benar mengubah hidup. Ternyata benar, membantu orang orang lain itu dapat memudahkan aliran rezeki.
  
        Pagi-pagi buta, dengan berkendara sepeda motor, saya mengantar istri mengikuti pelatihan Guru. Baru setengah perjalanan, tiba-tiba motor mudah oleng ke kanan dan ke kiri. Ketika diperiksa, ban depan gembos. Saya merutuk karena merasa tersinggung.

Bukan apa-apa, saya juga harus membagi waktu ke kantor supaya tidak terlambat. Tetapi ini malah bocor. Akhirnya terpaksa istri naik bus kota. Sementara saya mencari tukang tambal ban terdekat. Nyatanya, sejauh berjalan sambil ngos-ngosan, tak tampak ada tukang tambal ban. Saya memaki habis-habisan.

Untunglah, di dekat sebuah pasar, ketemu juga dengan tukang tambal ban. Dengan semangat segera saja motor saya tepikan. “Maaf pak. Belum operasi. Mungkin nanti siang atau sore. Saya belum tidur,” kata si tukang tambal. Amalaakk, rusuh hati saya. Kemudian dia menujukkan beberapa lokasi tambal ban. Kembali saya merutuk. Jauh nian semua data yang diberikan. Padahal belum sarapan lagi.

Apalagi, dua lokasi tambal ban juga cuma terlihat tulisannya saja. Alias belum muncul tukangnya. Saya melirik jam. Sudah hampir jam delapan. Baru tukang tambal ketiga, saya bisa bernapas lega. Tanpa bicara terlalu banyak, si tukang langsung main tangkas. Cepat dan ringkas sekali, batin saya.

“Sampean duduk saja mas sambil menunggu,” katanya, sembari menunjuk kayu persegi panjang. Namun belum sempat duduk, saya merasakan sakit di perut. Saya jadi ingat, sebelum berangkat saya masih sempatkan minum kopi sisa tadi malem. Mungkin itulah penyebab sakitnya perut. Saya mengamati sekitar, tak ada tanda-tanda toilet. Pinggir jalan semuanya rumah-rumah besar yang tak mungkin saya tumpangi ke toilet.

“Pak, saya kan sedang sakit perut ya. Kira-kira di mana ya pak, ada toilet?” pak tukang tambal ban menoleh. Ia tampak berpikir sebentar. Ia menoleh ke arah depan. Saya baru paham maksudnya. Di depan, tepat sebrang jalan, terdapat sungai besar Kali Mas. Sungai besar itu dibentang jalan dengan jembatan melegkung. Tapi, mana mungkin buang hajat di sungai besar begitu? Bisa keliatan semua pengendara jalan ya lumayan memalukan tokh?

“Masak di sungai pak? Apa tidak ada tempat lain?”

“Bukan di sungainya mas. Tapi di bawah jembatannya.”

“Bawah jembatan?? Maksudnya?”

“Coba nanti sampean sebrangi jalan. Turun di sisi jembatan. Tepat di bawah jembatan kan ada pembatas sungainya. Sampean beolnya pas di bawah jembatan itu. Di situ juga tempat saya tidur..”
Saya melongo. Tempat tidur??

“Sampean bingung? Mari saya antar saja,” tukas pak Tamban Ban. Kami bersama menyebrang jalan. Saat tiba di pinggir sungai, ternyata tepi pagar sungai memiliki jalan kecil berukuran setengah meter. Kami melompat ke jalan kecil. Pak Tambal Ban menunjuk ke bawah Jembatan. Di sana, terlihat pagar bambu yang menutupi batas antara luar dan dalam jembatan.

“Sampean buka pintunya. Masuklah, di sana ada tempat tidur saya. Ada tangga turun ke sungai juga. Hati-hati ya mas..” jelasnya detil. Saya segera bergerak, sementara pak Tambal Ban naik kembali ke atas jalan raya.

Saya termangu saat pintu dibuka. Pas di tengah jembatan, terlihat bangunan kecil yang dipagar kayu dan kardus. Sepertinya, itulah rumah yang dimaksud pak Tambal Ban. Saya mengelus dada. Bagaimana ia bisa betah tidur di tempat macam ini. Apa ia tidak khawatir, tiba-tiba air sungai meluap?

Saya segera mendekati rumah teramat sangat-sangat paling sederhana (RTSSPS) itu. Sebab isi perut makin tak bisa ditahan lagi. Langkah saya sempat terhenti, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di dalam rumah mungil. Sesuatu itu seperti bangun. Dan, kepalanya terlihat jelas. Rasanya wajah terasa pias dan pucat saat tahu apa yang bergerak itu. Saya segera bersiap-siap jika terjadi sesuatu membahayakan. Apalagi, saat kepalanya menoleh, dan lidahnya menjulur-julur mengerikan.

Guk, guk, gukkkkkkk!!

Anjing!

Sialan. Pekik saya membatin sembari ambil langkah seribu. Binatang paling saya takuti itu terus saja menyalak keras. Membuat jantung serasa mau copot, berlari melompati pagar. Baru berhenti pas di awal turun sungai. Menata napas yang kencang.

“Loh, kok cepat sekali mas?” tanya pak Tambal Ban. Saya tersenyum simpul. Gara-gara dicekam rasa takut, keinginan saya buang besar jadi hilang. Kembali saya duduk di kayu persegi panjang. “Iya. Terima kasih pak. Wah, nggak tau saya jadinya jika tak dikasih tahu tadi,” jelas saya pura-pura. Tetapi beruntung juga, salakan itu Anjing bisa redakan isi perut. Pak Tambal Ban cuma membalas senyum.

“Asli Surabaya pak?” tanya saya.
“Oh, tidak nak. Saya asli Nganjuk. Di Surabaya, saya hanya nyari nafkah,” katanya. Saya terhenyak. Dari Nganjuk? Sampai sejauh itu cari nafkah? Apa mencukupi hasilnya?

“Sehari bisa dapat pelanggan berapa pak?” tanya saya, untuk mengetahui taksiran penghasilan. “Kalau sekarang nggak nentu Nak. Nggak kayak zaman dulu. Kadang sehari malah nggak dapat objekan sama sekali. Kadang bisa dapat 3 atau 4 objekan. Kalau dapat banyak, tapi kan tenaga juga terbatas bila sekaligus.”

Saya manggut-manggut. Pembicaraan kami terus berlangsung, sembari pak Tambal Ban menyelesaikan tugas. Untuk urusan pulang kampung, pak Tambal Ban pulkam setiap bulan. Uang sebulan hasil nambal ia tabung sedemikian rupa sehingga cukup buat hidup di Surabaya, biaya pulkam dan tentu saja, buat tambahan nafkah istri dan anak-anaknya.

“Kenapa nggak nyari kerja di Nganjuk saja pak?”
“Haha, ya pekerjaan ini sudah saya mulai sejak tahun 80-an nak. Mau kerja di kampung, memangnya saya mau kerja apa? Sawah nggak punya. Ya nggak apa-apa, yang penting Tuhan masih memberikan saya pekerjaan, yang bisa buat nyukupi anak-istri,” katanya tenang.

Saya terharu. Saya belum bisa membayangkan, bagaimana caranya bapak ini bisa mengatur biaya hidupnya. Hidup di bawah jembatan, mungkin bagian dari caranya menghemat pengeluaran.

“Sudah nak. Silahkan dicek dulu,” katanya. Saya segera cek kondisi ban. Setelah yakin ban sudah aman, saya memberinya uang nominal duapuluh ribuan.

“Waduh nakk. Ini kan masih pagi. Saya tidak ada uang kembalian. Apa nggak ada yang pas saja?” saya memeriksa dompet, saku dan tas. Kosong melompong. “ Sampean bawa saja dulu. Kalau dapat pecahan, ke sini lagi aja,” katanya mengusulkan. Baik banget sih, batin saya. “ Tak usah kembalian pak. Buat sampean saja semuanya.”

“ Loh? Semuanya? Uang sebanyak begini???

Sudah nak, nggak apa-apa kok. Rezeki itu sudah ditentukan yang Mahakuasa. Sampean bawa saja.
Itu kebanyakan kalau saya ambil semua. Kasihan sampean itu..”
“ Santai aja pak. Ambil saja,” tegas saya.

“ Sebanyak ini? ” saya mengangguk heran. Ia menatap saya tak percaya. Sepertinya ia merasa nominal uang itu memang terlalu besar sebagai pembayaran nambal ban. Saya langsung hidupkan gas motor. Segera berlalu dari hadapannya. Meninggalkannya yang masih termangu.

Sepanjang perjalanan, saya tak habis pikir. Kok ya ada orang macam pak Tambal Ban. Sosok pekerja keras, mau hidup prihatin di rumah bawah jembatan, dan menabung uang meski tak seberapa demi anak-istri.

Lebih-lebih, ketika terngiang raut wajah tak percayanya ketika menerima uang dua puluh ribuan. Uang yang buat saya bisa habis 1-2 hari. Tapi buat pak Tambal Ban, mungkin bisa buat tambahan tabungan, buat pulkam dan beli oleh-oleh anak di rumah.

Saya jadi merasa bersalah sama Tuhan. Mengeluh karena pekerjaan dengan gaji yang tak seberapa, belum cukup buat beli rumah sendiri, mengeluh belum punya HP BB, mengeluh makan saja di warung biasa, bukan di restoran. Juga kenapa saya tidak ditakdirkan jadi anggota dewan saja, bisa beli mobil dan rumah sendiri.

Tetapi pak Tambal Ban kini berhasil mengubah semua kehidupan saya. Kini saya merasa sudah kaya raya. Ya, apa sih kebutuhan saya yang tak terpenuhi dalam hidup ini?

Motor saya punya, kontrakan bagus bisa saya sewa, pekerjaan satu tempat dengan keluarga saya miliki, handphone juga ada, televisi di ruang tamu, dan masih banyak lagi yang lain. Betapa, banyaknya anugerah rezeki dari yang Mahakuasa!

Satu lagi, untung saja saya bukan koruptor. Jadi, tak perlu masuk penjara.




      Semoga Cerpen Tentang Belajar Arti Kehidupan dari Pak Tua yang Sederhana  ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Dendam yang Berubah



     
        Seorang lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.

Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.

Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan.

Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya.

Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.

Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu.

Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

       Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak.

Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendung lagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.

Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata :
“Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena Sikap dirimu yang terlebih dahulu berubah menjadi lebih Ramah, lebih Santun dan Selalu senyum padanya."


Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas.
Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya.
Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu.
Ketiga, tidak semua ‘dukun’ salah. Kita juga harus jadi ‘dukun’ kalau sukses belajar yakni ‘duduk dengan tekun’.




        Semoga Cerpen Tentang Dendam yang Berubah ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Sabtu, 07 Februari 2015

Namaku : Uang ( Terkadang dipanggil Duit )


        Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia.
Aku juga "bisa" merubah Perilaku, bahkan sifat Manusia' karena manusia mengidolakan aku.
Banyak orang merubah kepribadiannya,­­­­ mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku!

Aku tidak mengerti perbedaan orang sholeh & bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin dan terhormat atau terhina.

Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku.

Aku juga bukan orang ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara-gara aku, 
Kakak dan adik beradu dan saling benci karena aku. 
Anak dan orangtua berselisih gara-gara aku.

Sangat jelas juga aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku seperti Tuhan, bahkan kerap kali hamba-hamba Tuhan lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah pesan jangan jadi hamba uang..

Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku?

Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku.

Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tidak mampu memperpanjang hidup anda.

Kalau suatu hari anda dipanggil Tuhan, aku tidak akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa-dosa anda, anda harus menghadap sendiri kepada sang Pencipta lalu menerima penghakiman-Nya.

Saat itu, Tuhan pasti akan hitung-hitunganan dengan anda, Apakah Selama Hidup Anda Menggunakan aku dengan baik, atau sebaliknya Menjadikan aku sebagai Tuhan?

Ini informasi terakhirku : 
Aku Tidak Ada Di Surga,
Jadi jangan cari aku disana.



Salam Sayang ...
Ttd


~ UANG ~




      Semoga Cerpen Tentang Namaku : Uang ( Terkadang dipanggil Duit ) ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin


* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Sebutir Nasi


     
     
     Hidup ini harus dihargai, sama seperti kita menghargai Sebutir Nasi. Apa yang saya lihat kemarin merupakan suatu kesedihan, menjadi pikiran saya selama beberapa hari hanya karena seseorang membuang nasi ke dalam tong sampah.

Bukan ingin memuji diri sendiri, tapi saya memang menempatkan diri sebagai sebutir nasi, itu sebabnya saya berusaha untuk tidak membuang sebutir nasi pun. Ketika sedang menanak nasi, saya usahakan semua beras masuk ke dalam panci, jangan sampai ada yang terbuang. Ketika sedang mengambil nasi, saya usahakan untuk tidak menjatuhkan sebutir nasi pun. Ketika selesai makan pun saya berusaha membersihkan piring dari sisa-sisa nasi sehingga piring menjadi bersih, bukan hanya piring, jari-jari pun tidak luput saya seruput dari sisa nasi. Itulah pengabdian sederhana saya kepada sebutir nasi.

Maka terbayang bagi Anda bila saya melihat orang lain membuang nasi dengan seenaknya. Sedih? Tentu saja karena membayangkan betapa beratnya pekerjaan seorang petani untuk menghasilkan beras dan betapa sulitnya orang-orang untuk membeli beras, membuat saya semakin menghargai sebutir nasi. Tetapi mengapa bagi sebagian orang betapa mudahnya membuang nasi? Entahlah, saya juga tidak tahu.

Pada hakekatnya membuang nasi atau makanan lainnya merupakan tindakan pemubaziran, membuang-buang rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Banyak macam himbauan yang menyebarkan informasi tentang sulitnya orang-orang mendapatkan makanan, kelaparan, bahkan hingga meninggal karena laparnya, tetapi banyak juga orang yang hanya merasa kasihan dan tidak berbuat apa pun untuk lebih menghargai makanan.

Di sudut sana ada orang-orang yang sedang terlilit kesulitan dan menderita kelaparan, mengais-ngais di antara sisa-sisa makanan, mengonsumsi nasi aking yang tidak ada gizinya sama sekali, atau memakan tumbuhan lainnya sebagai pengganti makanan pokok. Sedangkan di sudut sana, orang-orang dengan ceria makan di tempat mewah, memesan segala bentuk makanan yang tidak hanya bergizi tapi juga bernilai ekonomis tinggi, dan mereka tidak perlu susah payah untuk mendapatkan makanan kesukaannya, tinggal telepon, menggesek kartu atau membayar dengan tunai, dan kemudian langsung menyantapnya.

       Dunia ini memang selalu berada di dua sisi yang berbeda, saling membelakangi, saling mencemburui, saling berkompetisi, dan harus ekstra keras untuk saling melengkapi. Bagaikan pandangan yang berbeda dari setiap orang tentang sebutir nasi. Kumpulan nasi yang tersedia di atas piring, tinggal disantap untuk mengenyahkan rasa lapar menjadi kumpulan berkah yang akan masuk menjalari darah, atau menjadi kesia-siaan dan kemubaziran semata.

Kembali kepada Anda, bagaimana pandangan Anda terhadap sebutir nasi. Saya jadi ingat tentang kalimat pendek yang sering diucapkan oleh orang tua dulu ketika saya kecil dan sedang disuapi makan, "Ayo habiskan nasinya. Kalau tidak habis nanti nasinya nangis lho".

Saya mengerti sekarang, bila kita tidak menghabiskan nasi maka dia benar-benar akan menangis, dan saya juga ikutan menangis. Jadi, bila Anda benar-benar ingin berubah, benar-benar ingin menghargai sebutir nasi, dan bukan hanya karena rasa kasihan sementara waktu, maka berusahalah untuk memakan semua nasi yang ada di piring Anda, bila perlu jangan sisakan sebutir nasi pun pada sendok atau tangan Anda.





       Semoga Cerpen Tentang Sebutir Nasi ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Selasa, 03 Februari 2015

7 Tips Mujarab Agar Selalu Cantik Setiap Saat


                                                               

                                                                            بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

                  

Buat kaum Hawa, berikut ada 7 tips mujarab agar selalu cantik di setiap saat :

1. Agar wajah selalu segar, berseri-seri, dan cantik, cucilah minimal 5 kali sehari yaitu dengan air wudhu. Jangan langsung dikeringkan oleh handuk, biarkan menetes dan kering sendiri. Lalu ambilah sajadah, sholat, berdzikir, berdo'a.

2. Untuk menghilangkan stress, salah satu penyebab kerut di wajah, perbanyaklah 'olah raga’.
Jika tidak ada waktu untuk pergi ke studio fitness, sport-gym, dll, cukup dengan memperbanyak sholat-sholat sunnah.

3. Dengan sholat berarti kita menggerakan seluruh tubuh. Konsultasikan semua keluh kesah kita pada Dzat Yang Maha Tahu – Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dzikir dan do'a.

4. Untuk pelembab, agar awet muda, gunakanlah senyum. Tidak hanya di bibir tapi di hati juga.
Katakan pada diri sendiri anda adalah cantik dan tidak memerlukan segala macam operasi plastik.

5. Untuk mendapatkan bibir cantik, bisikkan kalimat-kalimat Allah, tidak berkata bohong, atau menyakiti hati orang lain, tidak dipakai menyombongkan diri atau takabur.

6. Agar tubuh langsing, singset dan mulus, lakukan diet yang teratur yaitu dengan berpuasa seminggu 2 kali, Senin dan Kamis. Jika kuat, lebih bagus lagi berpuasa seperti nabi Daud AS. Makanlah makanan halal, perbanyak sayuran, buah-buahan, air putih.

7. Untuk mengembangkan diri, sebarkan salam dan sapaan. Dengan demikian kita akan banyak dikenal dan disayangi. Insya Allah. Semua perintah Allah pasti akan bermanfaat buat kita, meskipun kita tidak tahu.. niatkanlah segala aktivitas kita hanya untuk menggapai ridho Allah, bukan untuk mencari kesehatan saja ya…?





        Semoga Artikel Tentang  7 Tips Mujarab Agar Selalu Cantik Setiap Saat ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Mengetahui Kehormatan Masjid


     
     Telah kita ketahui bahwa masjid merupakan tempat ibadah bagi umat Islam. Tempat yang paling didambakan bagi kita, karena ketenangan dapat kita peroleh ketika memasukinya. Bukan hanya tempat-tempat khusus saja, tempat suci ini juga memiliki kehormatannya. Apakah kehormatan masjid?

Al-Faqih berkata: Ali bin As-Sardi Al-Hakim menceritakan kepada kami, Ubaidah bin Muhammad As-Sarakhshi menceritakan kepada kami, Shalih bin Kaisan menceritakan kepada kami, Abu Fudaik menceritakan kepada kami dari Katsir bin Zaid dari Al-Muthalib bin Abdullah dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum ia mengerjakan sholat dua rakaat.”

Al-Faqih menjelaskan, bila seseorang masuk ke dalam masjid pada waktu yang diperbolehkan untuk melakukan sholat, maka ia disunahkan untuk mengerjakan sholat dua rakaat, akan tetapi bila ia masuk sesudah ke dalam masjid sesudah sholat ashar atau sesudah sholat subuh, maka ia tidak boleh mengerjakan sholat, karena sholat pada waktu itu adalah terlarang. Ia hendaknya membaca tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaaha illallah) dan sholawat atas nabi SAW, maka ia mendapatkan keutamaan sholat dan telah mengerjakan hak masjid.

Al-Faqih berkata: Muhammad bin Al-Fadl menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, Abdur Rahman bin Muhammad Al-Muharibi menceritakan kepada kami dari Laits bin Abu Sulaim dari salah seorang gurunya, di mana ia berkata, “Abu Darda mendengar bahwa Salman Al-Farisi RA membeli seorang budak sebagai pelayan, kemudian ia menulis surat kepadanya yang berbunyi sebagai berikut, ‘Wahai saudaraku, pergunakanlah masa hidupmu untuk beribadah sebelum datangnya musibah yang menyebabkan tidak dapat beribadah. Pergunakanlah kesempatan untuk mendapatkan doa orang yang beriman yang sedang menderita musibah, kasihanilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makanan, niscaya hatimu akan lunak dan hajatmu akan kesampaian. Wahai saudaraku, sesungguhnya aku menyaksikan bahwa pada suatu hari Nabi SAW kedatangan seseorang yang mengeluh karena kerasnya hati, beliau lalu bersabda,

“Apakah kamu suka bila hatimu lunak dan hajatmu tercapai?” Orang itu menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makananmu, niscaya hatimu akan lunak dan hajatmu akan tercapai.”

Wahai saudaraku, jadikanlah masjid sebagai rumahmu, karena aku mendengar Rosulullah SAW bersabda,

“Masjid-masjid itu adalah rumah-rumah orang yang bertakwa. Allah Ta’ala menjamin kepada orang yang menjadikan masjid-masjid itu sebagai rumahmu dengan kesenangan, kesejahteraan, dapat melewati shirath (titian), dan selamat dari api neraka menuju kepada keridhaan Tuhan Yang Maha Pemberkah lagi Maha Tinggi.”

AL-Hakim bin Umair, sahabat Rosulullah SAW bersabda, “Jadilah kamu di dunia seperti tamu, dan jadikanlah masjid itu sebagai rumahmu. Biasakanlah hatimu untuk bersikap lunak, dan perbanyaklah merenung dan menangis, dan jangan sampai kamu dikacaukan oleh hawa nafsu.”

Qatadah RA berkata, “Tidak pantas bagi seorang mukmin untuk memandang kecuali tiga hal, yaitu: Masjid yang dimakmurkannya, rumah yang menutupinya, dan hajat yang dibutuhkannya.”

An-Nazzal bin Saburah berkata, “Orang munafik di dalam masjid itu bagaikan burung dalam sangkar.”

Khalf bin Ayyub sedang duduk di dalam masjid, lalu pelayannya datang untuk menanyakan sesuatu. Khalf lalu berdiri dan keluar dari masjid lantas menjawab pertanyaan pelayannya. Ketika tindakannya itu ditanyakan oleh seseorang, Khalf menjawab, “Sudah sekian tahun saya tidak pernah membicarakan masalah dunia di dalam masjid, maka hari ini pun saya enggan untuk membicarakan urusan dunia di dalam masjid.”

Al Faqih berkata, “Sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan posisi di sisi Allah Ta’ala, jika ia mengagungkan perintah-perintah-Nya dan mengagungkan rumah-rumah-Nya dan hamba-hamba-Nya. Masjid-masjid itu adalah termasuk rumah-rumah Allah, maka setiap orang yang beriman harus mengagungkannya, karena dengan mengagungkan masjid-masjid, maka berarti ia mengagungkan Allah Ta’ala.”

Diceritakan dari salah seorang zahid, di mana ia berkata, “Saya tidak pernah bersandar di dalam masjid, tidak pernah membujurkan kaki, dan tidak pernah membicarakan masalah dunia di dalam masjid.” Ia mengatakan demikian dengan maksud agar dicontoh.

Diceritakan dari Al-Auza’I RA, di mana ia berkata, “Ada lima hal yang senantiasa dilakukan oleh Rosulullah SAW dan para pengikutnya yang setia, yaitu:

  1. Melazimkan sholat jama’ah
  2. Mengikuti sunnah Rosul
  3. Memakmurkan masjid
  4. Membaca Al-Quran
  5. Berjuang pada jalan Allah.”

Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali RA, bahwasanya ia berkata, “Tiga macam manusia berada dalam lindungan Allah, yaitu:

1. Seseorang yang masuk masjid hanya karena Allah, maka ia adalah tamu Allah sampai ia kembali,
2. Orang yang menjenguk saudaranya yang muslim karena Allah, maka ia berarti menjenguk Allah sampai ia kembali,
3. Orang yang pergi untuk menunaikan haji atau umrah yang karena Allah, maka ia adalah duta Allah sampai ia kembali.”

Ada yang menjelaskan bahwa benteng orang yang beriman itu ada tiga, yaitu: Masjid, dzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an. Orang yang beriman bila berada atau melakukan pada salah satu di antara tiga macam itu, maka ia berlindung dari setan.”

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Maskawin untuk bidadari di surga adalah membersihkan masjid dan memakmurkannya.”

Anas bin Malik RA berkata, “Barang siapa yang menyalakan satu lampu di dalam masjid, maka malaikat dan yang menyangga ‘arsy selalu memohonkan ampun kepadanya selama lampu itu menyala di dalam masjid.”

Umar bin Al-Khaththab RA berkata, “Masjid-masjid itu adalah laksana rumah-rumah Allah di bumi, dan orang-orang yang mengunjunginya adalah laksana tamu-tamu Allah. Sudah menjadi kewajiban bagi yang dikunjungi untuk memulaikan tamu.”

Al-Faqih menerangkan bahwa kehormatan Masjid itu ada 15, yaitu:

  1. Mengucapkan salam sewaktu masuk ke dalam masjid, bila ada orang-orang yang sedang duduk. Bila tidak ada orang yang duduk atau mereka sedang mengerjakan sholat, hendaklah ia mengucapkan, Assalaamu ‘alainaa min Rabbina wa ‘alaa ‘ibaadillahis-shaalihiin, “Semoga kesejahteraan dari Tuhan kami dikaruniakan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih.”
  2. Mengerjakan sholat dua rakaat sebelum duduk, karena ada hadits nabi yang berbunyi, “Setiap sesuatu itu ada penghormatannya, dan penghormatan terhadap masjid adalah sholat dua rakaat.”
  3. Tidak mengadakan transaksi di dalamnya.
  4. Tidak menghunus pedang di dalamnya.
  5. Tidak mencari barang yang hilang di dalamnya.
  6. Tidak mengeraskan suara di dalamnya, kecuali untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala.
  7. Tidak membicarakan masalah dunia di dalamnya.
  8. Tidak melangkahi leher orang.
  9. Tidak bertengkar masalah tempat.
  10. Tidak mendesak-desak dan mempersempit barisan (shaf).
  11. Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat.
  12. Tidak berludah di dalamnya.
  13. Tidak membunyikan jari-jarinya.
  14. Membersihkan masjid dari najis, orang-orang gila, anak-anak kecil dan tidak melaksanakan hukuman di dalamnya.
  15.  Memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak melalaikannya.


Diriwayatkan dari Al-Hasan, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Akan datang pada umatku suatu masa di mana pembicaraan mereka di dalam masjid-masjid mengenai urusan dunia mereka, Allah tidak perlu terhadap mereka, maka janganlah kamu duduk bersama-sama mereka.”

Diriwayatkan dari Az-Zuhri dari Abu Hurairah RA, di mana ia berkata, Rosulullah SAW bersabda, “ Sesuatu yang asing di dunia ini ada empat, yaitu:
  1. Al-Quran di hati orang yang dzolim, 
  2. Masjid di daerah orang-orang yang tidak sholat di dalamnya, 
  3. Mushaf (Al-Quran) di rumah yang tidak dibaca
  4. Orang sholih di tengah-tengah orang-orang yang rusak."

Dan Anas RA dari Rosulullah SAW, di mana beliau bersabda, “Masjid-masjid itu akan dikumpulkan seolah-olah ia adalah unta yang putih kakinya (yang terbuat) dari ‘Anbar (jenis minyak wangi), lehernya dari Za’faran, kepalanya dari minyak kasturi yang semerbak baunya, dahinya dari batu permata yang hijau, dituntun oleh orang-orang yang adzan dan didorong oleh imam-imamnya. Mereka itu berjalan di lapangan pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar. Orang-orang (yang menyaksikan) hari kiamat itu berkata, ‘Mereka adalah para malaikat yang dekat (dengan Allah), para nabi yang diutus (oleh Allah),’ kemudian mereka diberitahu, ‘Wahai orang-orang yang menyaksikan hari kiamat, mereka itu bukanlah para malaikat yang dekat (dengan Allah), dan juga bukan para nabi yang diutus, tetapi mereka adalah umat Muhammad SAW yang menjaga sholat dengan berjamaah’.”

Dari Wahb bin Munabbih, di mana ia berkata, “Nanti pada hari kiamat, masjid-masjid akan didatangkan dengan bentuk seperti kapal yang bertahtakan batu permata, lantas memberi syafa’at kepada orang-orang yang suka mengunjunginya.”

Dari Ali bin Abi Thalib, di mana ia berkata, “Akan datang suatu masa, di mana Islam tinggal namanya saja, Al-Quran tinggal tulisannya saja. Mereka membangun masjid dengan megah, namun masjid itu kosong dari dzikir kepada Allah Ta’ala. Orang-orang yang paling jahat di antara mereka adalah ulama-ulama mereka, di mana dari merekalah timbulnya fitnah, dan kepada mereka fitnah itu kembali.”
[Sumber: Terjemah Tanbihul Ghafilin 1/Karya: Abu Lats As Samarqandi/Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang]





       Semoga Artikel Tentang Mengetahui Kehormatan Masjid ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Senin, 02 Februari 2015

8 Arti Cinta Dalam Al-Qur'an


Menurut hadits Nabi, orang yang sedang jatuh Cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (Man ahabba syai'ankatsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (Man ahabba syai'an fa huwa `abduhu).


Kata Nabi juga, ciri dari Cinta sejati ada tiga :
  1. Lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
  2. Lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
  3. Lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, dengan membaca firman-Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.




Dalam Al-Qur'an Cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya :

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan "nggemesi". Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rohmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis Rohmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.

Termasuk dalam cinta Rohmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam Al-Qur'an, kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin - dunia akhirat.

3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam Al-Qur'an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al-Qur'an menggunakan term Syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Siti Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra'fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk sholat, membelanya meskipun salah. Al-Qur'an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta Ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al-Qur'an menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdo'a agar dipisahkan dengan Siti Zulaikha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33).

7. Cinta Syauq (rindu). Term ini bukan dari Al-Qur'an tetapi dari hadits yang menafsirkan Al-Qur'an. Dalam surat Al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam do'a ma'tsur dari hadits riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi..

8. Cinta Kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut Al-Qur'an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, layukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286).





       Semoga Artikel Tentang 8 Arti Cinta Dalam Al-Qur'an ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid