Selasa, 03 Juni 2014

Buncis (Phaseolus vulgaris L.)


    
      Buncis adalah merupakan sejenis polong-polongan yang dapat dimakan. Buah, biji, dan daunnya dimanfaatkan sebagai.bahan makanan nabati yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Semak tegak atau membelit, panjang 0,3-3 m. Daun penumpu tetap melekat lama. Anak daun bulat telur, dengan pangkal membulat, meruncing, kedua belah sisi berambut, 5-13 kali 4-9 cm. Tandan bunga duduk di ketiak, dengan 1-2 pasangan bunga. Tangkai tandan masif, setinggi-tingginya 6 cm, kerapkali Iebih pendek. Anak daun pelindung di bawah kelopak panjang 3-9 mm. Kelopak tinggi 5-8 mm, gigi yang teratas sangat pendek. Mahkota hampir selalu putih, menjadi kuning, kadang-kadang ungu; bendera pada pangkalrrya dengan 2 telinga; lunas memutar kurang dari 2 kali; sayap berkuku panjang. Benang sari bendera Iepas, lainnya bersatu. Tangkai putik dekat ujung berjanggut. Polongan sangat berubah bentuk dan ukuran. Biji putih, kuning, merah, lila, coklat atau hitam. Keping biji dari tanaman kecambah muncul di atas tanah. Dari Amerika; banyak ditanam. Catatan: Biji dan buah dijumpai dalam banyak variasi dan diperdagangkan dengan nama yang sangat berbeda sebagai sayuran, buncis coklat dan putih, buncis spercie dan snijbonen, buncis peluru dan kievitsbonen, dsb. Bagian yang Digunakan Buah dan Biji.


Dalam sistematika tumbuhan (taksonomi), tanaman buncis diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Sub Divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotiledonae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Genus: Phaseolus
Species: Phaseolus vulgaris L

  • Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Buncis :

Nama Bahan Makanan : Buncis
Nama Lain / Alternatif : -
Banyaknya Buncis yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Buncis yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 90 %
Jumlah Kandungan Energi Buncis = 35 kkal
Jumlah Kandungan Protein Buncis = 2,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Buncis = 0,2 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Buncis = 7,7 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Buncis = 65 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Buncis = 44 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Buncis = 1 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Buncis = 630 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Buncis = 0,08 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Buncis = 19 mg
Khasiat / Manfaat Buncis : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : B
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta sumber lainnya.

  • Hasil Penelitian Kandungan Gizi Buncis Yang Lain :

Nama Bahan Makanan : Buncis (Versi DKBM P3G '90)
Banyaknya Buncis yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Buncis yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 90 %
Jumlah Kandungan Energi Buncis = 34 kkal
Jumlah Kandungan Protein Buncis = 2,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Buncis = 0,3 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Buncis = 7,2 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Buncis = 101 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Buncis = 42 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Buncis = 0,7 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Buncis = 0 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Buncis = 0,05 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Buncis = 11 mg


Nama 
  • Daerah
 
  • Simplisia/Asing
Phaseoli Semen, Fabarum Semen; Buncis. Phaseoli Fructus, Phaseoli Legumina; Buah Buncis, kacang Buncis

Manfaat dan Khasiat:
  1. Kencing manis
  2. Pelancar ASI

  • Kencing Manis
Bahan: Buah Buncis 250 grm
Cara pembuatan: Dikukus
Cara Pemakaian: Dimakan sebagai lalap tiga kali sehari, tiap kali makan 250 gram.

Kandungan:
- Alkaloid
- Flavonoida
- Saponin
- Triterpenoida
- Steroida
- Stigmasterin
- Trigonelin
- Arginin
- Asam amino
- Asparagin
- Kholina
- Tanin
- Fasin (toksalbumin)
- Zat pati
- Vitamin
- Mineral.

  • Deskrispi
         Umumnya, sistem perakaran berbagai jenis buncis tidak besar atau ekstensif, percabangan lateralnya dangkal. Akar tunggang yang terlihat jelas biasanya pendek, tetapi pada tanah remah yang dalam, akar dapat tumbuh hingga sekitar 1 m. Dengan adanya bakteri Rhizobium, bintil berkembang pada akar lateral. Sistem perakaran yang menjangkar kuat adalah sifat penting untuk panen dengan mesin. Berbagai kultivar P. vulgaris adalah tanaman musim panas yang membelit dan merambat. Selain bentuk merambat indeterminate dan tidak merambat, ada bentuk kerdil (semak) determinate dan indeterminate. Kultivar bentuk semak determinate yang ada sekarang ini berbeda dengan bentuk merawbat indeterminate - yang terdahulu memiliki dominansi apikal yang lebih rendali, dan sedikit atau tidak tanggap terhadap fotoperiod hari-pendek. Kultivar indeterminate merambat dan tegak memiliki percabangan yang lebih banyak dan, dengan jumlah buku pembungaan lebih banyak, memiliki potensi hasil yang lebih besar. Panjang batang tipe merambat dapat mencapai 3 m, dengan lebih dari 25 buku pembungaan. Bentuk ini sangat mudah rebah, dan karena itu, umumnya ditopang dengan lanjaran atau tiang. Bentuk semak determinate memang pendek, beberapa jenis tidak lebih tinggi dari 60 cm, memiliki jumlah buku sedikit, dan perbungaannya terbentuk di ujung batang tanaman. Daun buncis beranak daun-tiga dan menyirip. Kultivar sekarang memiliki daun kecil sehingga meningkatkan penetrasi cahaya ke dalam kanopi tanaman, khususnya untuk penanaman yang sangat rapat. Walaupun sifat ini cenderung meningkatkan hasil-total, ukuran daun kecil menghasilkan ukuran polong yang kecil pula. Bunga berukuran besar dan mudah terlihat, berwarna putih, merah jambu, atau ungu. Bunga ini sempurna, dan, seperti halnya kapri, memiliki 10 benang sari, 9 di antaranya menyatu membentuk tabung yang melingkupi bakal buah panjang, dan satu benang sari teratas terpisah dari yang lain. Bunga menyerbuk sendiri dan umumnya jarang terjadi persilangan terbuka. Polong tanaman ini hampir selalu memanjang, bukan membesar; panjangnya berkisar dari 8 hingga 20 cm atau lebih, dengan lebar mulai kurang dari 1 cm hingga beberapa cm. Bergantung pada kultivar, ujung polong - dapat meruncing atau tumpul; bentuk potongan melintangnya beragam, mulai dari bundar hingga oval memanjang, dan beberapa jenis berbentuk hati. Polong sebagian besar kultivar terbaru agak lurus, walaupun beberapa jenis biasanya melengkung. Sebagian besar kultivar memiliki polong berwarna hijau muda hingga hijau kebituan tua; yang lain kuning (berlilin), ungu, atau multiwarna.Jumlah serat polong dan laju perkembangannya juga beragam. Melalui pemuliaan selektif,.serat dapat sangat berkurang. Sifat tanpa-urat telah diintroduksi lebih dari 100 tahun yang lalu. Sekarang, hanya nenek moyangnya dan kultivar buncis tua lain sajalah yang memiliki serat lir-benang yang kuat. Calvin Keeney, petani produsen benih dari LeRoy, New York, mendapat penghargaan karena mengintroduksikan kultivar tanpa-urat sekitar tahun 1800. Sifat tanpa-urat adalah sifat resesif dan telah berhasil digabungkan ke dalam sebagian besar kultivar yang ditanam dewasa ini. Kultivar tipe tanpa-urat juga merigandung lebih sedikit serat dinding. Namun, di AS, `string bean' (kacang buncis berurat) cenderung tetap digunakan untuk menyebut buncis. Kata `urat' digunakan karena kacang ini memiliki serat lir-benang yang kuat pada sisi dorsal (perut) dan ventral (punggung) polong, urat pada sisi dorsal lebih kuat. Ketika biji telah matang sempurna, polong akan membelah terbuka. Istilah 'snap' mungkin berasal dari suara yang terdengar ketika polong segar patah. Sebagian besar polong buncis tidak berbulu (glaborous); sedikit di antaranya yang berbulu halus. Polong tidak memiliki kelopak daun yang persisten sebagaimana yang dimiliki kapri. Jumlah biji adalah sifat lain kultivar; sebagian besar kultivar buncis berbiji tiga hingga lima; tipe buncis bijian atau buncis segar cenderung berbiji lebih banyak. Ukuran dan bobot biji matang sangat beragam, panjangnya berkisar dari 5 mm hingga 20 mm, dan bobot biji

  • Manfaat
         Walaupun tidak menghasilkan jumlah protein dan kalori setinggi buncis bijian kering, buncis sayuran merupakan sumber protein, vitamin, dan mineral yang penting. Selain dikonsumsi dalam bentuk polong yang dimasak, di Afrika dan Amerika Latin, tajuk dan daunnya biasa digunakan sebagai lalapan. Yang juga dimakan adalah biji yang keras, besar, tetapi masih muda (biji kupasan segar), dan, dalam jumlah yang lebih terbatas, biji kering beberapa kultivar.

  • Syarat Tumbuh
         Rata-rata suhu udara 20-25°C sudah optimum untuk pertumbuhan dan hasil . tinggi. Buncis berlanjaran cenderung tumbuh lebih baik pada suhu agak lebih dingin, dan lebih peka terhadap suhu tinggi pada saat pembungaan ketimbang tipe semak. Cekaman panas berpengaruh buruk terhadap pembentukan polong, dan beberapa kultivar lebih toleran ketimbang yang lain. Suhu tanah yang sesuai adalah 18-30°C. Buncis peka terhadap kekeringan dan genangan. Idealnya, lengas harus tersebar merata sepanjang pertumbuhan; 250-450 mm biasanya sudah memadai. Untuk memperoleh hasil tinggi, perlu diperhatikan pengelolaan lengas yang baik. Kelengasan tanah harus mendekati kapasitas lapangan, khususnya selama pembungaan; penggenangan menyebabkan anoksia (kekurangan oksigen), buncis peka terhadap kondisi ini, dan menyebabkan meningkatnya serangan penyakit busuk akar. Cekaman lengas berpengaruh terhadap hasil polong, jumlah dan ukuran biji, selain terhadap warna, kandungan serat, dan kekerasan biji. Selain perkecambahan, pembungaan dan perkembangan polong paling peka terhadap kekurangan air. Angin kering dapat menyebabkan gugur bunga. Tanah lempung liat yang berdrainase baik, remah, dan bertekstur medium sangat sesuai untuk produksi buncis. Pertumbuhan sangat berkurang bila tanah dipadatkan. Tanah yang agak asam paling disukai; pH optimum berkisar antara 6,0 dan 6,5. Sebagian besar kultivar buncis yang ada sekarang ini tidak peka terhadap fotoperiod. Namun, kultivar tertentu hanya menghasilkan tunas bunga selama hari pendek. Perilaku yang menarik adalah sifat daun buncis yang menghadap dan mengikuti matahari, sifat yang meningkatkan efisiensi fotosintesis. Sebaliknya, selama periode kelebihan panas dan kelengasan tanah rendah, daun akan memutar sejajar dengan cahaya matahari sehingga menurunkan suhu daun. Hasil berkurang jika tanaman ternaungi. Zat hara Sebagian besar kultivar memiliki sistem perakaran yang relatif kecil, dan karenanya sering memiliki kemampuan menyerap zat hara yang terbatas sehingga umumnya memerlukan pasokan pupuk tambahan. Kultivar determinate, khususnya, tidak dapat memperoleh nitrogen yang tefiksasi Rhizobium; dengan demikian, diperlukan pemupukan untuk perkembangan tanaman yang jagur. Bentuk nitrogen nitrat lebih disukai ketimbang bentuk amonium. Fosfor sangat penting selama pertumbuhan awal tanaman. Dosis pemupukan harus memperhatikan populasi tanaman karena penanaman yang sangat rapat umumnya memerlukan kadar pupuk tambahan yang tinggi pula. Buncis peka terhadap salinitas, dan selama penanaman, biji tidak boleh bersinggungan langsung dengan pupuk. Buncis sangat peka terhadap kelebihan boron tanah.

  • Pedoman Budidaya
          Penanaman dan jarak tanam Kotiledon besar biji buncis mudah pecah akibat kerusakan fisik, yang dapat terjadi selama panen biji, pembersihan, dan penanaman. Perkecambahan biji buncis adalah epigeal, dan hilangnya kotiledon seluruhnya atau sebagian dapat mempengaruhi pertumbuhan kecambah dan hasil tanaman. Akibat buruk dari berkurangnya kekerasan biji adalah biji semakin mudah rusak. Perbaikan peralatan pemanen biji, seperti penggunaan sabuk karet sebagai pengganti silinder besi untuk memisahkan biji, sangat mengurangi kerusakan. Perkecambahan biji optimum teqadi pada suhu 25-30°C; suhu kurang dari 10°C dan di atas 35°C tidak memungkinkan perkecambahan (tabel 22.3). Pada kondisi yang baik, kemunculan kecambah dapat berlangsung dalam 7- 12 hari. Ketika ditanam di tanah dingin, perkecambahan berlangsung lambat, dan sering terjadi pembusukan benih. Perlakuan benih dengan fungisida pelindung berguna untuk meminimumkan pembusukan benih. Benih sering diuji dengan perkecambahan tanah dingin untuk mengukur potensi kejagurannya pada kondisi buruk.Perkecambahan buruk sering teriihat pada benih kultivar berkulit biji putih dibandingkan dengan kultivar berkulit biji gelap. Pemulia tanaman telah berhasil meningkatkan sifat ini pada kultivar berkulit biji putih yang baru. Kedalaman penanaman berkisar 3-8 cm. Kadang-kadang, benih ditanam dalam parit dangkal yang kemudian ditimbun seiama penyiangan. Untuk memperoleh hasil tinggi, banyak buncis semal; ditanam pada kerapatan sekitar 40 tanaman/m2. Kerapatan tinggi dicapai melalui penanaman dengan jarak barisan rapat atau dengan cara sebar. Metode penanaman ini tidak cocok untuk panen dengan tangan, tetapi sangat sesuai untuk panen dengan mesin. Jarak tanam lebar digunakan untuk memungkinkan panen dengan tangan dalam produksi buncis berlanjaran, karena tanaman indeterminate ini dapat dipanen berulang kali. Buncis berianjaran biasanya ditanam dengan jarak sekitar 10 cm dalam barisan, dengan jarak antarbarisan sekitar 120-150 cm. Penanaman buncis berlanjaran di atas gundukan dilakukan dengan jarak tanam bujur sangkar, dari 90 hingga 120 cm. Penanaman di atas gundukan (hill) ini biasanya menggunakan 5-6 biji per lubang tanam, yang kemudian dijarangkan menjadi sekitar tiga tanaman. Di beberapa bagian aropika dan subtropika, buncis berlanjaran ditanam dengan atau setelah tanaman jagung atau okra, sering menggunakan batang tanaman ini sebagai lanjaran. Kerapatan fanaman buncis semak untuk panen dengan tangan adalah 45.000-60.000 tanaman per hektar, sedangkan dalam penanaman kerapatan tinggi untuk panen dsngan mesin adalah 250.000-450.000 tanaman per hektar. Penggunaan mesin panen baris jamak memungkinkan penanaman dengan kerapatan tinggi dalam barisan rapat. Walaupun jarak tanam sangat rapat cenderung mengurangi warna polong, hal ini sering dimaklumi untuk memperoleh hasil tinggi. Namun, penanaman sangat rapat dapat meningkatkan kemungkinan terserang penyakit. Meningkatnya penggunaan mesin penanam menghasilkan jarak tanam yang akurat, dan mengurangi jumlah benih yang ditanam; biaya pengadaan benih yang mahal juga cenderung menurunkan dosis penanaman.

  • Hama dan Penyakit
         Layu bakteri, Bercak coklat bakteri, Hawar umum, Hawar fuscous (basah),Hawar melingkar, Fungi Bercak daun dan polong, Bercak daun kotak Bercak daun ascochyta, Bercak daun cercospora, Embun jelaga Embun jelaga faba, Busuk akar fusarium, Penyakit kuning fusarium Busuk abu-abu, Bercak daun phyllosUcta, Hawar polong Embun tepung Erysiphe polygoni Busuk akar dan rebah kecambah Pythium spp., jugaAphanomyces, Kudis kara kratok Antraknosa batang, Layu verticillium Busuk putih
  • Panen dan Pasca Panen
          Panen buncis tipe semak dapat dipanen pada umur 60-70 hari; sedangkan buncis tipe merambat umumnya memerlukan sekitar 10-20 hari lebih lama. Penentuan saat panen buncis segar didasarkan pada fase.pertumbuhan polong. Untuk memperoleh hasil tinggi, polong buncis harus mencapai panjang maksimum sebelum pembesaran biji terlihat nyata dan selama masih sukulen. Situasi yang ideal adalah memanen seluruh polong pada fase perkembangan yang sama. Pengukuran derajat-hari sering digunakan untuk memperkirakan dan menjadwalkan panen buncis segar di negara maju. Di sebagian besar dunia, panen buncis semak dan buncis berlanjaran umumnya dilakukan dengan tangan karena mesin tidak tersedia dengan biaya murah di berbagai negara. Buncis berlanjaran, yang memiliki pembungaan tidak terbatas, dapat dipanen pada periode yang relatif lebih panjang ketimbang dpe semak; akibatnya, hasilnya biasanya lebih Unggi. Selain hasilnya mungkin lebih tinggi, produksi buncis berlanjaran menguntungkan karena dapat lebih baik beradaptasi dengan kondisi curah hujan tinggi, dengan rendahnya kelembapan dalam kanopi daun dan serangan penyakit. Selain itu, karena tidak tersentuh tanah, polong yang dihasilkan bersih dan tumbuh lurus. Namun, produksi buncis semak terus meningkat dibandingkan dengan buncis berlanjaran karena biaya produksinya lebih rendah. Agar panen dengan mesin dapat berhasil dengan baik, peralatan dan tanaman harus cocok. Kultivar yang ada sekarang memudahkan mekanisasi karena memiliki pembungaan dan pembentukan polong yang terpusat, pola pertumbuhan tegak dengm polong terbentuk pada pertengahan hingga pucuk tanaman, daun lebih sedikit, cenglceraman akar terhadap tanah kuat, dan tahan terhadap beberapa jenis penyakit. Semua faktor tersebut meningkatkan keefektifan kerja peralatan panen, yang bertumpu pada proses perlucutan polong dengan garpu besi yang menyisir daun. Polong dan daun yang terlepas kemudian dipisahkan. Panen dengan mesin mula-mula digunakan hanya pada produksi polong untuk pengolahan, karena kerusakan polong biasanya tidak menyebabkan kerusakan produk jika polong segera diolah. Namun, pada buncis segar, panen dengan mesin menyebabkan kerusakan yang terlihat jelas sehingga tidak dapat diterima pasar. Berbagai mesin pemanen yang ada sekarang telah dimodifikasi untuk mengurangi sebesar munglcin kerusakan polong, dan dapat digunakan untuk memanen polong segar. Kultivar buncis kupasan segar dipanen ketika biji telah mecapai ukuran penuh dan agak keras. Kelengasan biji lebih tinggi ketimbang buncis bijian kering. Tenaga kerja dan/atau mesin biasa digunakan untuk memanen polong. Biji dikeluarkan dari polong, dan polongnya dibuang karena berserat dan tidak sukulen. Buncis kupasan memiliki sifat tetap keras setelah dimasak, amat mirip dengan sifat buncis bijian yang dimasak dan tidak seperti biji buncis segar yang lembek dan empuk jika dimasak: Pascapanen dan penyimpanan Polong buncis segar memiliki laju respirasi Unggi dan harus segera didinginkan pada suhu sekitar 5°C dan disimpan pada RH 95%. Pendinginan cair merupakan metode yang disukai untuk mencapai pendinginan cepat, dan untuk memelihara turgor polong. Suhu kurang dari 3°C selama berhari-hari harus dihindaH karena mendorong terjadinya kerusakan-suhu-dingin. Umur simpan polong pada kualitas yang layak jual selama 2-3 minggu dapat dicapai melalui penyimpanan pada suhu 5-10°C dan RH 95%.



        Semoga artikel tentang  Buncis (Phaseolus vulgaris L.) ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Amin


*Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid











0 komentar:

Posting Komentar