Rabu, 01 April 2015

Kehidupan Zuhud Nabi Muhammad SAW



        Suatu ketika Rosulullah SAW bersumpah akan berpisah dengan isteri-isterinya selama satu bulan, sebagai peringatan bagi mereka karena kurang biasa mengikuti kehidupan beliau yang zuhud. Selama sebulan beliau tinggal seorang diri dalam sebuah kamar sederhana yang letaknya agak tinggi.


Terdengar kabar di kalangan para sahabat bahwa Nabi SAW telah menceraikan semua isterinya.
Ketika Umar bin Khatthab mendengar kabar ini, segera ia berlari ke masjid. Setiba di sana, ia melihat para sahabat sedang duduk termenung, mereka bersedih dan menangis. Juga kaum wanita, mereka menangis di rumah-rumah mereka.

        Kemudian Umar pergi menemui putrinya, Hafshah, yang telah dinikahi oleh Rasulullah SAW. Umar pun mendapati Hafshah sedang menangis di kamarnya. Dia kemudian bertanya kepada Hafshah, “Mengapa engkau menangis? Bukankah selama ini aku telah melarangmu agar tidak melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Rosulullah SAW?” Hafshah tak menjawab apa-apa, dia terus menangis.

Umar lalu kembali ke masjid, terlihat olehnya beberapa orang sahabat sedang menangis di mimbar. Kemudian dia duduk bersama para sahabat, lalu berjalan ke arah kamar Nabi Muhammad SAW, yang terletak di tingkat atas masjid. Umar mendapati Rabah, sahabat yang selalu mengikuti Rosulullah, dan dia meminta kepada Rabah agar memohonkan izin kepada Rosulullah untuk menemuinya.

Rabah menghadap Nabi SAW, kemudian kembali dan memberitahukan bahwa dia telah menyampaikan permohonan izin Umar, namun Nabi SAW hanya diam. Permintaan untuk menjumpai Nabi SAW diulang beberapa kali, hingga ketiga kalinya barulah Nabi Muhammad SAW mengizinkan Umar untuk naik menghadapnya.

Ketika masuk, Umar melihat Nabi SAW tengah berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga pada badan Nabi SAW yang putih bersih itu terlihat jelas bekas-bekas guratan daun kurma. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang yang dipenuhi daun dan kulit pohon kurma.

Selepas mengucapkan salam kepada beliau, Umar kemudian bertanya,” Apakah Tuan telah menceraikan isteri-isteri Tuan, ya Rosulullah?” Nabi SAW menjawab, ‘Tidak.”
Umar sedikit lega, lalu dia mengatakan,”Ya Rosulullah, kita adalah kaum Quraisy yang selamanya telah menguasai wanita-wanita kita. Tetapi setelah kita hijrah ke Madinah, keadaannya sungguh berbeda dengan orang-orang Ansar. Mereka telah dikuasai wanita-wanita mereka sehingga wanita-wanita kita terpengaruh dengan kebiasaan kaum Ansar.” Nabi SAW tersenyum mendengar perkataan Umar.

Umar pun Menangis.
Umar lalu memperhatikan keadaan kamar Nabi SAW. Terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu, selain itu tidak terdapat apa pun. Umar menangis sesenggukan melihat keadaan Nabi yang seperti itu.

Tiba-tiba Rosulullah SAW bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau menangis, wahai Umar?
“Bagaimana saya tidak menangis, ya Rosulullah. Saya sedih melihat bekas tanda tikar di badan Tuan yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah SWT mengkaruniakan kepada tuan bekal yang lebih banyak.

Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang di tengahnya mengalir sungai, sedangkan engkau adalah Rosul Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan sangat miskin,” kata Umar bin Khaththab.

Mendengar jawaban Umar, Rosulullah SAW bangun dan berkata, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. Jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya.”

Kata-kata Nabi : “Jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti” tentu tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa keadaan di akhirat, dalam hal ini di surga, sama dengan “Kenikmatan tersebut”. Karena, dalam sebuah hadits dikatakan, kenikmatan di surga itu sungguh luar biasa, belum pernah kita lihat dan kita dengar sebelumnya, bahkan kita bayangkan saja belum.

Mendengar sabda Nabi, Umar merasa menyesal. Lalu dia berkata, “Ya Rosulullah, mohonlah kepada Allah SWT untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.”

Rosulullah SAW membesarkan hati sahabatnya itu. Umar pun merasa lega.
Kehidupan beliau yang zuhud itu pun menjadi salah satu keutamaan beliau yang sebelumnya sering disalah artikan oleh para isterinya. Dan setelah kejadian itu, Rosulullah menasihati para isterinya akan kepastian janji-janji Allah SWT di yaumul akhir. Para isteri itu pun akhrinya menyesali perilaku mereka dan memperbaharui kesetiaan mereka kepada Rosulullah SAW bahwa, apa pun yang terjadi, mereka semua memilih ikut Rosulullah SAW, termasuk untuk hidup zuhud.


Sumber: http://www.madinatulilmi.com/ 



           
     
   Semoga Kisah tentang Kehidupan Zuhud Nabi Muhammad SAW ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

0 komentar:

Posting Komentar