Rabu, 10 Juli 2013

Kabupaten Serang 4

Demografi
  • Agama 
  • Pendidikan 
  • Pekerjaan
  • Seni dan Budaya


Agama

Struktur penduduk menurut agama:

Ÿ
Islam
1.329.512
orang
99,47%
Ÿ
Kristen Protestan
4.807
orang
0,36%
Ÿ
Katholik
1.653
orang
0,12%
Ÿ
Budha
353
orang
0,03%
Ÿ
Hindu
229
orang
0,02%
Ÿ
Kepercayaan lainnya
51
orang
0,00%



Tingkat Pendidikan

Struktur penduduk menurut tingkat pendidikan:
Ÿ1 Tidak/belum sekolah 273.025 orang 20,43%
2 Belum tamat SD sederajat 47.847 orang 3,58%
Ÿ3 SD sederajat 665.081 orang 49,76%
Ÿ4 SLTP sederajat 201.114 orang 15,05%
Ÿ5 SLTA sederajat 129.354 orang 9,68%
Ÿ6 D-I/II 5.673 orang 0,42%
Ÿ7 D-III/Akademi/Sarjana Muda 5.244 orang 0,39%
Ÿ8 D-IV/S1 8.710 orang 0,65%
Ÿ9 S2 390 orang 0,03%
Ÿ10 S3 167 orang 0,01%

 















Pekerjaan
Struktur penduduk menurut pekerjaan (data 2007):
Ÿ
Menganggur
217.086
orang
16,24%
Ÿ
Mengurus rumah tangga saja
362.392
orang
27,11%
Ÿ
Perdagangan
174.384
orang
13,05%
Ÿ
Buruh harian lepas
100.056
orang
7,49%
Ÿ
Pekerjaan lain yang tidak menentu
436.037
orang
32,62%
Ÿ
Lainnya (wiraswasta, pegawai negeri, pegawai swasta, pejabat politik, dll)
46.650
orang
3,49%


















Seni dan BudayaSeni Budaya
Seni dan budaya masyarakat Serang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh agama Islam. Kesenian yang menjadi kebanggaan masyarakat Serang, antara lain:
  • panjang mulud
  • terbang gede
  • gacle
  • ubrug
  • rudat
  • yalil
  • wayang kulit
  • angklung buhun
  • kuda kepang
  • patingtung
  • debus
Debus adalah kesenian yang paling popular dan menjadi ciri khas di seluruh wilayah Banten, dan merupakan salah satu atraksi kesenian kebanggaan yang tumbuh subur di wilayah Serang. Permainan debus bernuansa mistis-magis, cenderung mengerikan bahkan tak jarang membuat miris dan menimbulkan rasa ngeri bagi yang melihatnya. Namun permainan ini memiliki nilai-nilai religius yang menunjukkan bukti bahwa manusia mampu bertahan dari ancaman apa pun asalkan beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada permainan debus terdapat atraksi yang menunjukkan kekuatan tubuh manusia dari hantaman benda tajam seperti mengiris tubuh dengan golok, menggergaji tubuh, menusuk tubuh dengan logam runcing ukuran besar, bahkan dipalu dengan palu besar, Kesenian debus bersifat turun temurun dan hanya diwariskan secara terbatas. Tak ada lembaga formal yang khusus mendalami dan mendidik pemain debus. Semua berlangsung informal dan tradisional. Muncul secara alami, dan tumbuh di daerah pedesaan, tanpa rekayasa, trik, atau tipuan.





0 komentar:

Posting Komentar