Minggu, 15 Maret 2015

Hati Bagaikan Baju


Bismillahirrohmanirrohim ...

Seseorang tidak akan tahu bajunya kotor ataukah tidak, kecuali dengan dua syarat :

  1. Ia Tahu dan dapat membedakan “apa itu kotor” dan “apa itu bersih
  2. Setelah ia tahu, maka ia senantiasa memperhatikan bajunya (dari terkotori kotoran atau tidak), dan kemudian senantiasa membersihkannya, serta terus menjaganya dari hal-hal yang mengotorinya.
      Maka hendaknya kita perlakukan hal yang sama terhadap hati dan amal kita …
Sudahkah kita memperlakukannya kepada hati dan amal kita? adakah kita senantiasa memperhatikan
dan menjaga hati dan amal kita?

Betapa sering kita dapati su’uzhan (terhadap orang yang tidak layak); bahkan kita biarkan hal tersebut
menumpuk dalam hati kita, disebabkan kita tidak berusaha menghilangkannya.


Betapa sering kita dapati kedengkian dalam hati kita terhadap orang lain; bahkan kita biarkan hal tersebut menumpuk dalam hati kita, disebabkan kita tidak berusaha menghilangkannya.

Berapa banyak amalan kita yang terkotori dengan syirik ashghar (riya/sum’ah/ujub/takabbur), disebabkan kita tidak memperhatikan hati kita ketika kita hendak/sedang/telah melakukan amalan.

Betapa banyak amalan syirik/kufur akbar yang kita jatuh kedalamnya (sedangkan kita tidak menyadari), disebabkan hati kita jauh dari ilmu..!

Tidak tahukah kita akan “efek samping” dari banyaknya penyakit-penyakit hati yang senantiasa kita biarkan mengaung dalam hati?

Ketahuilah, segala penyakit itu akan berimbas kedalam amalan-amalan kita.

Tidak tahukah kita akan “efek samping” dari banyaknya amalan rusak yang dianggap remeh?! ketahuilah, ia hanyalah akan semakin merusakkan hati.

Jika su’uzhan (tanpa dasar) kita biarkan dalam hati... maka hati akan mendorong kita untuk mengucapkannya.

Dan ketahuilah perkataan yang hanya berdasar dengan prasangka adalah sedusta-dustanya ucapan (sebagaimana disabdakan nabi).

Jika kedengkian dibiarkan dalam hati, maka kedengkian tersebut akan nampak dalam lisan dan amalan kita. Sehingga akan mewariskan lisan yang sering berdusta, dan juga meng-ghibah, namiimah serta berbagai perbuatan zhalim terhadap orang yang ia dengki.

Bagaimana lagi jika kesyirikan ashghar yang senantiasa dibiarkan dalam hati ?! tidak takutkah kita bahwa hal tersebut akan membawa kita kepada kesyirikan akbar yang dapat mengeluarkan kita dari agama?!

Dan ketahuilah, orang yang terbiasa tidak memperhatikan hatinya... maka ia tidak lagi peduli dengan amalan yang ia tampakkan... atau mungkin akan melakukan pembenaran demi pembenaran dari kerusakan amalnya tersebut.

Sebagaimana halnya orang-orang yang tidak memperhatikan amalan-amalannya; hanyalah semakin memperparah penyakit didalam hatinya.

Mungkin kita lebih memperhatikan amalan orang lain, daripada memperhatikan amalan kita, sehingga kita lupa memperhatikan dan memperbaiki amalan kita.

Mungkin kita terlalu sering MENGIRA-NGIRA isi hati seseorang, sehingga kita lupa dengan apa yang ada dalam hati kita.

Hal ini bukanlah untuk menihilkan nasehat sesama muslim, apalagi nasehat terhadap orang yang dibawah tanggung jawabnya (anak/istri/murid)… tidak sama sekali.

Akan tetapi hendaknya semangatmu untuk memperbaiki dirimu, SEBAGAIMANA semangatmu untuk memperbaiki orang lain.

Engkau inginkan DIRIMU BAIK, kemudian engkau menginginkan hal yang sama terhadap orang lain sebagaimana engkau ingin dirimu baik... inilah yang diajarkan dalam islam.

Maka jangan sampai berpemahaman “engkau inginkan orang lain menjadi baik, tapi engkau lupa terhadap dirimu sendiri”… ini adalah pelecehan terhadap dirimu sendiri.

Ketahuilah… telah berkata maimun bin mahran: “Seorang hamba TIDAK TERMASUK golongan orang-orang bertakwa, SAMPAI IA MENGOREKSI DIRINYA (SENDIRI) MELEBIHI DARI KOREKSINYA TERHADAP REKANNYA…”




       
Semoga Artikel tentang Hati Bagaikan Baju ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

0 komentar:

Posting Komentar